Kamis, 27 Januari 2011

Sistem Integumen & Gangguan Pada Lansia ( ERITRODERMA )

SISTEM INTEGUMEN

A.      Pengertian kulit
Integument  berasal dari bahasa yunani yaitu integumentum yang artinya penutup  yang terdiri sebagian besar adalah kulit ,rambut ,kuku, kelenjar. kulit adalah lapisan jaringan  yang terdapat pada  bagian luar yang menutupi  dan melindungi permukaan tubuh. Pada permukaan kulit bermuara kelenjar keringat  dan kelenjar mukosa.

Epidermis

Epidermis tersusun atas lapisan tanduk (lapisan korneum) dan lapisan Malpighi. Lapisan korneum merupakan lapisan kulit mati, yang dapat mengelupas dan digantikan oleh sel-sel baru. Lapisan Malpighi terdiri atas lapisan spinosum dan lapisan germinativum. Lapisan spinosum berfungsi menahan gesekan dari luar. Lapisan germinativum mengandung sel-sel yang aktif membelah diri, mengantikan lapisan sel-sel pada lapisan korneum. Lapisan Malpighi mengandung pigmen melanin yang memberi warna pada kulit.

 Dermis

Lapisan ini mengandung pembuluh darah, akar rambut, ujung syaraf, kelenjar keringat, dan kelenjar minyak. Kelenjar keringat menghasilkan keringat. Banyaknya keringat yang dikeluarkan dapat mencapai 2.000 ml setiap hai, tergantung pada kebutuhan tubuh dan pengaturan suhu. Keringat mengandung air, garam, dan urea. Fungsi lain sebagai alat ekskresi adalah sebgai organ penerima rangsangan, pelindung terhadap kerusakan fisik, penyinaran, dan bibit penyakit, serta untuk pengaturan suhu tubuh.
Pada suhu lingkungan tinggi (panas), kelenjar keringat menjadi aktif dan pembuluh kapiler di kulit melebar. Melebarnya pembuluh kapiler akan memudahkan proses pembuangan air dan sisa metabolisme. Aktifnya kelenjar keringat mengakibatkan keluarnya keringat ke permukaan kulit dengan cara penguapan. Penguapan mengakibatkan suhu di permukaan kulit turun sehingga kita tidak merasakan panas lagi. Sebaliknya, saat suhu lingkungan rendah, kelenjar keringat tidak aktid dan pembuluh kapiler di kulit menyempit. Pada keadaan ini darah tidak membuang sisa metabolisme dan air, akibatnya penguapan sangat berkurang, sehingga suhu tubuh tetap dan tubuh tidak mengalami kendinginan. Keluarnya keringat dikontrol oleh hipotamulus
Subkutis
subkutis terdiri dari kumpulan kumpulan sel lemak dan diantara gerombolan ini berjalan serabut serabut jaringan ikat dermis . lapisan lemak ini disebut penikulus adiposus yang tebalnya tidak sama pada tiap tiap tempat.

Bagian yang termaksud dalam system integumen
Rambut
Sel epidermis yang berubah , rambut tumbuh dari folikel rambut  di dalam epidermis. Folikel rambut dibatisi oleh epidermis sebelah atas ,dasarnya terdapat papil tempat rambut tumbuh . akar berada dalam folikel pada ujung paling dalam dan bagian sebelah luar disebut batang rambut
Rambut terdiri dari
·         Rambut panjang
·         Rambut pendek
·         Rambut bulu lanugo
·         Rambut seksual
Kuku
Kuku adalah sel epidermis kulit kulit yang berubah , tertanam dalam palung kuku menurut garis lekukan pada kulit . palung kuku mendapat persyarafan dan pembuluh darah yang banyak.
Kelenjar kulit
Kelenjar kulit mempunyai lubus yang bergulung gulung dengan saluran keluar lurus merupakan jalan mengeluarkan berbagai zat dari badan ( kelenjar keringat )
Klenjar sebasea  berasal dari rambut  yang bermuara pada saluran folikel rambut untuk melumasi kulit dan rambut.
Persyarafan kulit
Kulit juga seperti persyarafan lain terdapat cabang cabang saraf spinal yang permukaan terdiri dari saraf saraf motorik dan saraf sensorik . ujung saraf motorik berguna untuk mengerakan sel sel otot yang terdapat pada kulit  sedangkan saraf sensorik berguna untuk menerima rangsangan yang terdapat dari luar atau kulit . pada ujung ujung saraf sensorik ini membentuk berbagai macam  macam kegiatan untuk menerima rangsangan . ujung ujung saraf  yang bebas untuk  menerima rangsangan nyeri  sakit /nyeri  banyak terdapat di epidermis . di ujung ujung saraf nya mempunyai bentuk yang khas yang sudah merupakan satu organ.


Fisiologi system integument
Kulit merupakan organyang paling luas permukaannya yang membungkus seluruh bagian luar tubuh sehinga kulit sebagai pelindung tubuh terhadap bahaya bahan kimia. Cahaya matahari mengadung sinar ultra violet dan melindungi terhadap microorganisme serta menjaga keseimbangan tubuh terhadap lingkungan. Kulit merupakan indicator bagi seorang untuk memperoleh kesan umum dengan melihat perubahan yang terjadi pada kulit . misalnya menjadi pucat , kekuning kuningan , kemerah merahan  atau suhu kulit meningkat, memperhatikan adanya kelainan yang terjadi pada tubuh atau gangguan kulit karena penyakit tertentu.
Gangguan spikis juga dapat dapat menyababkan keloainan atau perubahan pada kulit , misalnya stres, ketakutan atau dalam keadaan marah  akan terjadi perubahan pada kulit wajah. Perubahan sruktur kulit dapat menentukan apakah seorang telah lanjut usia  atau masih muda.
Fungsi kulit
Kulit pada manusia mempunyai fungsi yang sangat penting selain menjalin  kelangsungan hidup secara umum yaitu :
a.       Fungsi proteksi
Kulit manjaga bagian dalam tubuh terdapat gangguan fisis  atau mekanis , misalnya terdapat gesekan , tarikan , gangguan kimiawi yang dapat menimbulkan iritasi. Gangguan panas biasanya radiasi , sinar ultraviolet, gangguan infeksi dari luar  misalnya bakteri  dan jamur. Karena danaya bantalan lemak, tebalnya lapisan kulit dan serabut serabut jaringan penunjang  berperan sebagai pelindung  terdapat gangguan fisis , melanosit turut berperan  dalam melindungan kulit terhadap sinar matahari dengan mengadakan tanning ( pengobatan dengan asam asetil )
b.      Fungsi absorpsi
Kulit yang sehat tidak mudah menyerap air , larutan dan benda padat  tapi cairan yang mudah ,menguap lebih mudah di serap begitu juga yang larut dalam lemak kemempuan absorpsi kulit dipengaruhi oleh tebal tipisnya kulit , hidrasi, kelembapan dan metabolism.
c.       Fungsi kulit sebagai pengatur panas
Suhu tubuh tetap stabil meskipun terjadi perubahan suhu lingkungan. Hal ini  karena adanya penyesuaian antara panas yang di hasilkan oleh pusat pengantur panas, medulla oblongata.
d.      Fungsi eksresi
Kelenjar kelenjar kulit mengeluarkan zat zat yang  yang tidak berguna lagi  atau zat sisa metabolism dalam tubuh  berupa Nacl, urea, asam urat, dan amoniak. Sebum yang di produksi oleh kulit berguna untuk melindungi kulit karena lapisan sebum mengandung bahan minyak yang melindungi kulit   ini menahan kulit yang berlebihan sehingga kulit tidak menjadi kering.
e.       Fungsi persepsi
Kulit mengadung ujung ujung saraf sensorik di dermis dan subkutis. Respon terhadap panas diperankan oleh dermis dan subkutis, terhadap dingin diperankan oleh dermis, perabaan diperankan oleh papilla dermis dan markel renvier, sedangkan tekanan di perankan oleh epidermis.
f.        Fungsi pembentuk pigmen
Pigmen kulit terbentuk karena adanya Sel pembentuk pigmen ( melanosit )
g.       Fungsi pembentukan vitamin D

Gangguan  sistim integumen pada lansia

ASKEP ERITRODERMA

A. DEFINISI
• Eritroderma ( dermatitis eksfoliativa ) adalah kelainan kulit yang ditandai dengan adanya eritema seluruh / hampir seluruh tubuh , biasanya disertai skuama ( Arief Mansjoer , 2000 : 121)
• Eritroderma merupakan inflamasi kulit yang berupa eritema yang terdapat hampir atau di seluruh tubuh ( www. medicastore . com ).
• Dermatitis eksfoliata generalisata adalah suatu kelainan peradangan yang ditandai dengan eritema dan skuam yang hampir mengenai seluruh tubuh ( Marwali Harahap , 2000
• Dermatitis eksfoliata merupakan keadaan serius yang ditandai oleh inflamasi yang progesif dimana eritema dan pembentukan skuam terjadi dengan distribusi yang kurang lebih menyeluruh ( Brunner & Suddarth vol 3 , 2002 : 1878 ).
B. ETIOLOGI
Berdasarkan penyebabnya , penyakit ini dapat dibagikan dalam 2 kelompok :
1. Eritrodarma eksfoliativa primer
Penyebabnya tidak diketahui dengan pasti . Termasuk dalam golongan ini eritroderma iksioformis konginetalis
2. Eritroderma eksfoliativa sekunder
a. Akibat penggunaan obat secara sistemik yaitu penicillin dan derivatnya , sulfonamide , analgetik / antipiretik dan ttetrasiklin.
b. Meluasnya dermatosis ke seluruh tubuh , dapat terjadi pada liken planus , psoriasis , pitiriasis rubra pilaris , pemflagus foliaseus , dermatitis seboroik dan dermatitis atopik.
c. Penyakit sistemik seperti Limfoblastoma.

D. PATOFISIOLOGI
Pada dermatitis eksfoliatif terjadi pelepasan stratum korneum ( lapisan kulit yang paling luar ) yang mencolok yang menyebabkan kebocoran kapiler , hipoproteinemia dan keseimbangan nitrogen yang negatif . Karena dilatasi pembuluh darah kulit yang luas , sejumlah besar panas akan hilang jadi dermatitis eksfoliatifa memberikan efek yang nyata pada keseluruh tubuh.
Pada eritroderma terjadi eritema dan skuama ( pelepasan lapisan tanduk dari permukaan kult sel – sel dalam lapisan basal kulit membagi diri terlalu cepat dan sel – sel yang baru terbentuk bergerak lebih cepat ke permukaan kulit sehingga tampak sebagai sisik / plak jaringan epidermis yang profus.
Mekanisme terjadinya alergi obat seperti terjadi secara non imunologik dan imunologik (alergik ) , tetapi sebagian besar merupakan reaksi imunologik. Pada mekanismee imunologik, alergi obat terjadi pada pemberian obat kepada pasien yang sudah tersensitasi dengan obat tersebut. Obat dengan berat molekul yang rendah awalnya berperan sebagai antigen yang tidak lengkap ( hapten ). Obat / metaboliknya yang berupa hapten ini harus berkojugasi dahulu dengan protein misalnya jaringan , serum / protein dari membran sel untuk membentuk antigen obat dengan berat molekul yang tinggi dapat berfungsi langsung sebagai antigen lengkap.
( Brunner & Suddarth vol 3 , 2002 : 1878 )
F. MANIFESTASSI KLINIS
• Eritroderma akibat alergi obat , biasanya secara sistemik. Biasanya timbul secara akut dalam waktu 10 hari. Lesi awal berupa eritema menyeluruh , sedangkan skuama baru muncul saat penyembuhan.
• Eritroderma akibat perluasan penyakit kulit
– Eritroderma karena psoriasis
Ditemukan eritema yang tidak merata. Pada tempat predileksi psoriasis dapat ditemukan kelainan yang lebih eritematosa dan agak meninngi daripada sekitarnya dengan skuama yang lebih kebal. Dapat ditemukan pitting nail.
– Penyakit leiner ( eritroderma deskuamativum )
Usia pasien antara 4 -20 minggu keadaan umum baik biasanya tanpa keluhan. Kelainan kulit berupa eritama seluruh tubuh disertai skuama kasar.
– Eritroderma akibat penyakit sistemik , termasuk keganasan. Dapat ditemukan adanya penyakit pada alat dalam , infeksi dalam dan infeksi fokal. ( Arif Masjoor , 2000 : 121 )
G. KOMPLIKASI
Komplikasi eritroderma eksfoliativa sekunder :
 - Limfadenopati
 - Hepatomegali

H. PENGKAJIAN FOKUS
Pengkajian keperawatan yang berkelanjutan dilaksanakan untuk mendeteksi infeksi. Kulit yang mengalami disrupsi , eritamatosus serta basah amat rentan terhadap infeksi dan dapat menjadi tempat kolonisasi mikroorganisme pathogen yang akan memperberat inflamasi antibiotik , yang diresepkan dokter jika terdapat infeksi , dipilih berdasarkan hasil kultur dan sensitivitas.
I. BIODATA
a. Jenis Kelamin
Biasnya laki – lak 2 -3 kali lebih banyak dari perempuan.
b. Riwayat Kesehatan
– Riwayat penyakit dahulu
Meluasnya dermatosis keseluruh tubuh dapat terjadi pada klien planus , psoriasis , pitiasis rubra pilaris , pemfigus foliaseus , dermatitis. Seboroik dan dermatosiss atopik , limfoblastoma.
– Riwayat Penyakit Sekarang
Mengigil panas , lemah , toksisitas berat dan pembentukan skuama kulit.
c. Pola Fungsi Gordon
1. Pola Nutrisi dan metabolisme
Terjadinya kebocoran kapiler , hipoproteinemia dan keseimbangan nitrogen yang negative mempengaruhi keseimbangan cairan tubuh pasien ( dehidrasi ).
2. Pola persepsi dan konsep diri
– Konsep diri
Adanya eritema ,pengelupasan kulit , sisik halus berupa kepingan / lembaran zat tanduk yang besr – besar seperti keras selafon , pembentukan skuama sehingga mengganggu harga diri.
3. Pemeriksaan fisik
a. KU : lemah
b. TTV : suhu naik atau turun.
c. Kepala
Bila kulit kepala sudah terkena dapat terjadi alopesia.
d. Mulut
Dapat juga mengenai membrane mukosa terutama yang disebabkan oleh obat.
e. Abdomen
Adanya limfadenopati dan hepatomegali.
f. Ekstremitas
Perubahan kuku dan kuku dapat lepas.
g. Kulit
Kulit periorbital mengalami inflamasi dan edema sehingga terjadi ekstropion pada keadaan kronis dapat terjadi gangguan pigmentasi. Adanya eritema , pengelupasan kulit , sisik halus dan skuama.
( Marwali Harahap , 2000 : 28 – 29 : Rusepno Hasan , 2005 : 239 , Brunner & Suddarth , 2002 : 1878 ).
DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN FOKUS INTERVENSI
1. Gangguan integritas kulit bd lesi dan respon peradangan
Kriteria hasil : - menunjukkan peningkatan integritas kulit
- menghindari cidera kulit
Intervensi
a. kaji keadaaan kulit secara umum
b. anjurkan pasien untuk tidak mencubit atau menggaruk daerah kulit
c. pertahankan kelembaban kulit
d. kurangi pembentukan sisik dengan pemberian bath oil
e. motivasi pasien untuk memakan nutrisi TKTP
2. Gangguan rasa nyaman : gatal bd adanya bakteri
Tujuan : setelah dilakuakn asuhan keperawatan diharapkan tidak terjadi luka pada kulit karena gatal
Kriteria hasil : - tidak terjadi lecet di kulit
- pasien berkurang gatalnya
Intervensi
a. beritahu pasien untuk tidak meggaruk saat gatal
b. mandikan seluruh badan pasien ddengan Nacl
c. oleskan badan pasien dengan minyak dan salep setelah pakai Nacl
d. jaga kebersihan kulit pasien
e. kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat pengurang rasa gatal
3. Resti infeksi bd hipoproteinemia
Tujuan : setalah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan tidak terjadi infeksi
Kriteria hasil : - tidak ada tanda – tanda infeksi
( rubor , kalor , dolor , fungsio laesa )
- tidak timbul luka baru
Intervensi
a. monitor TTV
b. kaji tanda – tanda infeksi
c. motivasi pasien untuk meningkatkan nutrisi TKTP
d. jaga kebersihan luka
e. kolaborasi pemberian antibiotic































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar